Feeds:
Posts
Comments

Love for Children

Sebenarnya agak telat kalau baru nulis postingan ini sekarang. But it doesn’t matter. =)

Jadi beberapa minggu lalu, aku iseng ikut kegiatan teman yang tergabung dari suatu organisasi. yaitu Komunitas Jendela. Tepatnya di shelter (hunian sementara) para korban letusan gunung merapi setahun lalu, di daerah Gondang, Kaliurang.

Dengan berfokus pada pendidikan anak, organisasi ini telah membangun  sebuah perpustakaan disana, dan secara rutin melakukan aktivitas bersama anak-anak agar mereka tetap gemar membaca dan berkreativitas. Dan suatu pagi itu, aku berkesempatan berbagi dengan mereka semua. =))  Seneng bgt, karena kyknya udah lama bgt ga beraktivitas sama anak2 dan kangen sekali rasanyaa…^^

bikin mading sama anak2..=)

mading kita jadiii!!! =)

Another Story. Perkampungan ledhok timoho yang sebenarnya tak jauh dari pusat kota Jogja, sebuah kawasan pemukiman penduduk pinggir kali Gadjah Wong, dengan rumah-rumah gedhegnya..(hmm..bhs indonya apa ya, rumah bambu kah? smoga benar), dengan pekerjaan kebanyakan warganya sebagai pemulung.

Saat itu Ramadhan 2011, teman2 angkatan saya berinisiatif untuk mengadakan buka bersama yang dibuka dengan bakti sosial dan pemeriksaan kesehatan untuk warga yang ada disana. Sebuah organisasi yang bergerak di bidang sosial dan pendidikan bernama KOPI (Komunitas Peduli Indonesia), secara rutin memberikan pendidikan baca alqur’an dan pelajaran pada umumnya kepada anak-anak yang ada disana. Tak ingin berhenti hanya ketika Ramadhan saja, seorang teman tergerak untuk ikut serta meningkatkan pendidikan terutama dibidang kesehatan utk warga dan juga anak2, berkolaborasi dengan tmn2 KOPI. Akhirnya di setiap hari minggu, diadakan kegiatan dokcil untuk anak-anak diasna, diantaranya pemberian materi ttg p3k, kesehatan diri, ataupun kesehatan lingkungan. Ohya, kemaren sempat juga ngajar pelajaran sekolah ke mereka. Menyenangkan sekali ! ^.^

Dokcil pagi itu : Menjaga kebersihan sungai =)

Anak-anak selalu mengajarkanku ttg banyak hal. Tentang kebahagiaan, kegembiraan, ketulusan ataupun kasih sayang, yang terkadang, kita, sebagai orang dewasa justru sering terlupa ttg hal itu. Mereka bermain seperti tak ada beban, terlihat bahagia dan gembira, dimanapun, dengan kondisi apapun. Mereka selalu berkata apa adanya, jujur serta lugu, atau bahkan lucu..=P. Sementara orang dewasa, masih saja selalu mencari sebuah kebahagiaan. Bukankah kebahagiaan tak perlu dicari? Dia sebenarnya hanya berada di dalam hati kita sendiri. Karena sudah seharusnya kita selalu bahagia, bahagia dengan apa yang sudah kita punya, apa yang sudah kita capai, bagaimanapun keadaannya, sebagai bentuk syukur untuk-Nya. Seperti anak-anak, yang selalu bahagia dengan apa yang sedang ia lakukan, bahagia yang sebenar-benarnya. =)

Anak-anak juga mengingatkanku akan banyak cerita. Dengan berbagai latar belakang dan kondisi yang berbeda. Ketika masa S1 dulu, saat menjadi volunteer di Ruang Bermain INSKA Sardjito  (Baca di postingan “When that smile has gone”). Ataupun ketika masa koas yang banyak menyaksikan, menghadapi serta berperan dengan banyak anak dengan berbagai sakit yang diderita. Dan aku yakin, di luar sana, masih banyak berjuta anak yang tidak seberuntung kita. Membuatku tersadar bahwa ada banyak berjuta alasan yang mengharuskan kita untuk bersyukur. ^^

Setelah kuingat-ingat, memang sebagian besar aktivitas di masa perkuliahan tak jauh dari seputar dunia anak. Tempatku belajar memahami dan menghadapi anak-anak. =))

Penyuluhan di Musium anak, TBY

Penyuluhan di Muntilan

Dokcil di Bantul

Penyuluhan di Jetis, Jogja

Berinteraksi dengan anak-anak, selalu kebahagiaan yang kudapat. Tantangan sekaligus hiburan untukku =). Suatu hari nanti, jika memang ada jalan, ingin sekali rasanya melakukan sesuatu yang lebih besar untuk mereka.. Karena sebenarnya masih banyak hal kecil yang bisa kita lakukan, yang bisa kita bagi untuk teman-teman kecil kita =))

Butterfly

Ketika mimpi dan harapan masih duduk bersama awan.

Desember 2011

When the blue skies turn into grey, u’re still flying above
Across the sea, around the land
Although the wind blows over you, u’re still flying above
Nothing can stop, keep moving on
*Never realize, u’re beautiful.. never realize u’ve always been..

Reff  :

Don’t you know, i wanna be you
Bring all hopes to the sky, let the fear to get far
Don’t you know, i just wanna be like you
Fly for all of dreams, with my own wings, like what you always do..
Butterfly…

 
You’ve made a promise to me, when the flowers bloom
Through the day, find a way then we can fly… we can fly..

* Reff

But if rain comes along, do we stop? or do we go?
All we have to do is just believing, that we could still touch the sky..

 

Legends of the Native American Indians believe that wishes carried by butterflies to the Great Spirit would be granted..

Koas Vs Pasien

Tulisan2 dibawah ini adalah sedikit cuplikan pengalamanku bersama pasien semasa koas..cekidot!

Bangsal Penyakit Dalam, RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta

Malam ketika aku sedang bertugas untuk memeriksa pasien baru. Seorang wanita paruh baya. Ia bercerita bahwa Ia seorang penderita leukemia selama lebih dari 5 tahun. Dari awal gejala beberapa tahun yg lalu, hingga keluhan terakhir ia keluarkan. iIbu ini pada akhirnya menceritakan pula perjuangannya melawan sakit kankernya. Sangat tak mudah, karena ia hanyalah seorang pedagang baju di salah satu kios di tanah abang, Jakarta. Keluar masuk RS serta dihadapkan dengan kebutuhan biaya RS yang tak sedikit, membuat ia harus pontang-panting dalam menjalani hidup setelah didiagnosis sebagai penderita leukemia. Beruntung, ia memiliki suami yang selalu ada dan berjuang bersama. Dengan keteguhannya ia berkata bahwa apapun yang dialaminya sekarang, ia akan tetap hadapi dengan semangat, dan berpasrah dengan apapun yang Allah SWT rencanakan selanjutnya. Setelah seluruh cerita ia keluarkan, ia menanyaiku, apakah aku adalah koas? Apakah aku masih mahasiswa yang sedang belajar? Setelah kujawab, ia tersenyum tuluuuus sekali. Ia berkata bahwa selama ini, selama ia keluar masuk RS, baik itu di Jakarta ataupun Yogya, ia banyak sekali berhadapan dengan para koas. Ia berkata, bahwa Koaslah yang selama ini selalu mendengar keluhkesahnya, yang tidak hanya memeriksa tapi juga selalu menjadi teman bicara untukknya. Bahkan ia berkata, ia sangat senang bila dengan penyakitnya, ia dapat membantu para koas untuk belajar, mengambil ilmu dari apa yang dideritanya.. Lalu Ia menanyaiku, sudah berapa lama menjadi koas, dimana saja aku bertugas, dan rencanaku selanjutnya. Ia memberikanku semangat untuk terus berjuang dan belajar, ia berharap apa yg telah dialaminya dapat menjadi bekal bagiku untuk menjadi dokter sesungguhnya. Subhanallah, mulia sekali hati ibu ini. Saat itu rasanya semangat untuk belajar lebih baik lagi semakin membuncah. ^^, Semoga dimanapun ibu ini berada sekarang, senantiasa diberikan jalan yang terbaik dari-Nya.

Bangsal Cempaka, RSUD Banyumas.

Satu diantara beberapa pasien syaraf yang kufollow up setiap hari di bangsal itu, seorang pasien laki-laki, dengan penurunan kesadaran dan kelumpuhan separuh anggota gerak. Meningoencephalitis, suatu penyakit radang pada otak dan selaputnya. Di hari pertama aku datang, ia sama sekali tidak bisa berhubungan dengan lingkungan sekitar, dan akhirnya aku hanya ngobrol dengan istri pasien. Yang aku perhatikan adalah, si istri ini memiliki motivasi yang tinggi bahwa suaminya akan segera sembuh, ia sangat semangat dan telateeen sekali merawat sang suami. Ia bertanya padaku banyak hal, hal-hal kecil sekalipun. Setiap apa yang ia lakukan, ia utarakan dgn kata-kata, seakan mengobrol dan bercerita dgn suaminya. Tak perduli apakah suaminya mendengar atau tidak. Setiap hari seperti itu, tak pernah berkurang semangat sang istri ini. Manis sekali..=). Mengejutkan, di hari ke-4 pengobatan, kondisi  pasien ini aku lihat sudah jauh berbeda. Matanya mulai ada kontak, mulai mengeluarkan suara-suara, walaupun masih tak jelas dan terdengar pelo. Dan sudah bisa mengikuti perintah perintah sederhana untuk menggerakkan anggotatubuhnya. Walaupun masih sangat minim. Saat itu, sang istri bercerita ttg kemajuan suaminya dengan sangat bersemangat sekali. Aku tersenyum dan mengatakan agar tetap harus selalu dilatih terus menerus. Hari berikutnya, ia sudah mampu mengangkat kaki dan tangannya. Dapat menggenggam erat tanganku, serta sudah berusaha berbicara padaku, dengan menjawab pertanyaan2 sederhana dariku. Aku selalu berikan kata-kata penyemangat untuknya, agar  terus berusaha lagi. =). Hari itu adalah malam terakhirku memfollow up si pasien. Melihat keadaannya sudah semakin membaik, rasanya bahagiaaa sekali. Aku berpamitan pada pasien dan istrinya, bahwa aku akan pulang ke jogja esok hari. Ia berusaha dengan keras untuk mengucapkan terimakasih padaku, wah, rasannya sangat terharuu. , Dengan kondisi awal seperti itu, 1 minggu merupakan suatu proses yang tergolong sangat cepat. Sepertinya memang usaha sang pasien ditambah kesabaran sang istri membuahkan hasil. Itulah kekuatan keyakinan dan kesabaran..^^ Malam terakhir itu, saat aku masih menulis rekam medis hasil follow up beberapa pasien, tiba-tiba istri pasien itu datang menghampiriku dan mengatakan bahwa suaminya minta nomer hapeku. Wah, saat itu aku kaget sekali, merasa heran sampai-sampai si pasien berkeinginan seperti itu. Aku tertawa dan si istri juga mengatakan bahwa ia juga tak menyangka.hehe. Kuberilah nomer hapeku pada istrinya.

Kira-kira 5 hari kemudian, setelah kepulanganku dari Banyumas, tiba-tiba pukul 05.30 pagi dikejutkan oleh suara wanita yang berbicara semangat sekali dengan logat banyumasnya dari hp; “dokter dinda, dokter dinda. Saya istrinya pak bla bla.. Kemarin sudah boleh pulang dari RS. Bgini dok, ini suami saya kira-kira boleh minum susu anle*e  tidak ya dok? Ini suami saya minta saya tanya sama dokter dinda saja, bagaimana dok? “ …………………….. Hmm..sungguh pagi yang lucu. =)

Bagian Perinatologi, RSUD Banyumas

Kali ini adalah cerita tentang kecerobohan dan kekonyolanku yang sudah cukup membuat aku malu setengah mati. Saat itu aku sedang stase di kamar bayi, dan kali ini sedang bertugas di ruang operasi sesar untuk melakukan manajemen resusitasi awal untuk bayi. Seperti biasanya, sambil menunggu, aku ikut melihat jalannya operasi dan bersiap menerima bayi. Saat bayi mulai dikeluarkan dari perut sang ibu, aku langsung menerima dan membalut si bayi mungil itu dengan kain. Perawat operasi bertanya padaku,” laki-laki atau perempuan mbak?”.. Aku yang melihatnya sekilas tadi langsung berkata tanpa berpikir, “Laki-laki pak.” Kemudian aku berjalan cepat menuju sang ibu, menunjukkan si bayi padanya sambil mengatakan “Selamat bu, bayinya laki-laki.” Setelah itu aku bergegas menuju ruang resusitasi dan melakukan beberapa prosedur rutin bersama residen anak. Pembersihan jalan nafas, membersihkan si bayi, menimbang serta memakaikan gelang bayi. Setelah siap semuanya, aku menggendong si bayi dan keluar dari kamar operasi, hendak membawa si bayi menuju ruang bayi. Di luar kamar operasi, seluruh keluarga pasien menunggu, termasuk bpk dari si bayi. Ia menghampiriku dan bertanya, “Ini anak saya mbak?” “iya pak, selamat, putranya laki-laki.” Segera setelah itu saya dan bapak ini menuju ruang bayi.

                Sampai di ruang bayi, sesuai prosedurnya, sebelum di masukkan di dalam box, dilakukan penimbangan ulang. Semua kain yang membungkus bayi aku buka, ku tarolah itu bayi di atas timbangan. Tiba-tiba bapak si bayi terkaget, “Loh mbak, ini bayi saya perempuan kok” katanya, sambil menunjuk bayi dan menunjukkan muka heran. Setelah kulihat… “Astaga, tadi saya bilang laki-laki ya pak?” raut mukaku saat itu berubah jadi kaget setengah mati, mengingat aku mengatakan laki-laki pada seluruh personel kamar operasi termasuk ibu bayi ini. Mendengar itu, semua perawat yang ada disitu tertawa..”Woalah mbak,mbak… kok iso to.. gek ndang balik ke IBS lagi sana..  ngganti gelange ibu’e…” (*IBS : Instalasi Bedah Sentral. ) Ujar seorang perawat sambil menahan tawanya. Buru-buru saat itu aku kembali ke kamar operasi dan mengatakan bahwa aku keliru menyebutkan jenis kelamin si bayi. Lagi-lagi di sambut dengan tertawa…. Duh, sungguh malu rasanya.

Akhir Cerita

Alhamdulillah, waktu telah membawaku hingga hari ini.

Rasanya tak ingin berhenti mengucap rasa syukur karena semuanya telah berjalan lancar, tentunya dengan sangat indah, meninggalkan sebuah cerita yang akan kusimpan untuk bisa kubagikan suatu hari nanti. ^^

1,5 Tahun pendidikan profesi. Sejak awal aku tahu ini akan menjadi bagian yang tak mudah untuk dilewati.

Dan ternyata memang tak mudah.

 Entah sudah berapa kali ketidakpercayaan diri muncul di tengah jalan, entah sudah berapa kali pertanyaan “Apakah aku bisa?” kupertanyakan untuk diriku sendiri…. ketika menyadari ada berjuta hal yang harus diketahui, harus dikuasai, harus dilakukan, dan ketika melihat sebuah potret kehidupan profesi masa depan..

Betapa rasanya sering kali terjadi gejolak perasaan yang tak mengenakkan, menyeruak diantara celah hati, dan membuatku merasa kecewa dan malu pada diri sendiri, merasa bersalah, merasa bodoh, merasa tak bisa memberikan yang terbaik untuk diriku sendiri maupun pasien..

Tapi semuanya harus dilewati, karena itu bagian dari sebuah pelajaran.

Ingin sekali bisa menceritakan semua pengalaman selama 1,5 tahun ini, setiap detail kejadian, setiap perasaan yang terlibat, setiap cerita membahagiakan maupun yang memilukan sekalipun. Semuannya menjadi pelajaran yang begitu berharga untukku, bukan saja ilmu kedokteran yang kudapat, tapi pelajaran hidup yang tersirat didalamnya.

Saat-saat sulit, saat-saat membahagiakan, saat dimana air mata jatuh, ataupun saat dimana tawa canda datang, selalu menjadi bagian dari cerita ini.

1,5 Tahun. Sungguh beruntung, aku berada di antara teman-teman seperjuangan yang sangat berarti untukku. Entah kalau tidak ada mereka, apa jadinya aku. =P

Teman-teman yang amat sangat banyak membantu, tempat berbagi ilmu, berbagi pengalaman, dan yang paling penting, berbagi perasaan, berbagi kejenuhan ataupun berbagi keletihan..heheee

Yang telah banyak membantu melewati masa2 sulit, menyemangati, serta menguatkan kaki dan hati ini untuk tetap berdiri menatap mimpi. Karena aku yakin, di perjalanan ini, kita semua mempunyai mimpi yang sama. =)

For all M-10 member : Ana, Ara, Fifid, Nadia, Ve, Yoke, Syifa, Anggita, Putri, Gita,Ema,  Umi, Sang, Zul, Kinoy, Yayan, Gangga, Andro, Yulius, Agung, Kautsar, Fajar, Alba, Daus..

Terimakasih teman2!! Jangan pernah lupakan masa koas kitaa.. Karena ini adalah awal kesuksesan kita..Amiin!! ^_^  Semoga ketika bertemu suatu saat nanti, udah ada yang jadi Profesor, Direktur Rumah Sakit, Dekan FK, Atau malah Menteri Kesehatan..=)

Semoga apa yang telah aku dan teman-teman perjuangkan selama 1,5 tahun ini, dapat menjadi bekal untuk masa depan kami kelak. Semoga kami semua dapat menjadi dokter yang berprestasi, yang memberikan manfaat serta barokah untuk masyarakat tempat kami mengabdi esok..^^

Because ending is just a new beginning. And now time for us, move to another chapter in our life… To makes a new story that will be a great history, someday..=)

Have u ever  wanted runaway? Far away from here, and only scream out loud that u wanna do.

Maret 2011.

Saat itu, rasanya aku hanya ingin melupakan semuanya. Membuang sejauh-jauhnya. Rasa yang tak menentu, rasa yang seharusnya tak perlu. Ketika semuanya seperti jauh dari apa yang kau inginkan,  jauh dari apa yang kau harapkan, dan ketika tak seorangpun ada tuk bisa mendengarkan.

Jenuh. Sudah pasti saat itu jenuh adalah alasannya. Semua yang terjadi akhir2 itu, ditambah dengan rutinitas yang tak kunjung berakhir. Rutinitas yang menuntut tampil dan bekerja sebaik mungkin, kapanpun, setiap jam, setiap hari, setiap waktu..karena pasien tak akan perduli apapun suasana hatimu saat itu. Mendapat pelayanan terbaik dan kesembuhan secepat mungkin,hanya itu yang mereka inginkan, i’m sure.

Oke, dan satu-satunya yang kuinginkan saat itu hanyalah pergi. Outside this box. Pergi dari pandangan jas putih yang berseliweran di setiap mata memandang, jauh dari berpuluh-puluh pasien dengan berjutaaaaaa keluhan. Tidak hanya tuntutan untuk mendengarkan keluhan mengenai permasalahan kesehatan mereka, tapi juga permasalahan keluarga, keuangan,bahkan masalah asmara. Oh,God. Ijinkan saya saat ini saja memikirkan permasalahan diri sendiri (pikiranku waktu itu). Ingin rasanya jauh dari segala keribetan dan keruwetan rumah sakit yang tak pernah ada habisnya. Jauh dari perasaan tegang, stress, terburu-buru dan lainnyaa. Semua perasaan kepenatan saat itu seakan-akan sudah siap meledak jika tak segera dipadamkan.

I feel stuck with my own life. Stuck dengan rutinitasku sendiri, rasanya seperti aku tak punya kehidupan di luar tembok rumahsakit. Egois memang, mengeluh mengenai rutinitas ini, mengingat melayani pasien dengan sepenuh hati akan menjadi tugas sepanjang hidupku nantinya. >,<  Tapi memang yang aku butuhkan saat itu hanyalah merefresh raga serta hati ini…

Libur 1 minggu setelah stase anak. Luar biasa gembira rasanya. Libur terpanjang sepanjang sejarah perkoasanku waktu itu setelah hampir 1  tahun lamanya. Baiklah,maka sebaiknya kemanakah aku harus membuang semua rasa ini? Berharap bisa ke suatu tempat nun jauh, dengan segala keheningannya, dengan suasana berbeda..

Dan beberapa hari kemudian.. Saya sudah disana. Sulawesi Tengah.

1 Minggu lebih disana ternyata mampu untuk menghilangkan segala rasa jenuhku saat itu. Melewati dan menikmati hari dengan suasana yang jauuuuuhh berbeda, tak lagi berada ditengah-tengah kesibukan rumah sakit, ternyata memang hanya itu yang aku butuhkan. Hanya ada bukit, teluk, pantai serta pelangi yang kerap muncul di sore hari.

Saat itu hati ini merasa sangat bosan dengan hidupku sendiri, merasa bahwa aku hanya berjalan ditempat saja, bahkan terkadang merasa kenapa aku sulit mencapai tujuanku sendiri.. Dan memang, aku hanya butuh waktu. Mengintropeksi segala hal yang telah berlalu, mengambil hikmah dari semua pelajaran itu, ikhlas, serta mencoba untuk kuat dan bangkit kembali, and never look back again.

Keindahan alam yang masih begitu alami disana, hamparan pantai di sepanjang perjalanan, laut yang membentang luas, seakan berkata bahwa kisahmu tak akan berhenti begitu saja, Allah masih menawarkan sejuta harapan dan mimpi untuk kau raih. Jangan pernah berfikir sempit, karena kuasa-Nya tak akan ada habisnya. Menikmati dan mensyukuri dengan apa yang telah Ia limpahkan padaku selama ini. =)

2 Minggu berlalu and i feel much better than before. Hanya dengan melewati dan menikmati hari yang tidak seperti biasanya, semuanya bisa terobati. Karena terkadang kita hanya butuh waktu untuk sendiri serta lepas sejenak dari semuanya. ^^

Dan ini beberapa tempat indah yang kukunjungi sepanjang waktu itu:

Sunset at Taipaa.. =)

Pantai Taipa - Palu

Pantai Tanjung Karang, Donggala - Sulteng

Another view at Tanjung Karang Beach ^^

Tangis Pertamamu

Kau tau nak?

Tangisan pertamamu sungguh dinantikan oleh semua orang yang ada di ruang itu.

Kelegaan yang mengalir serta senyum dari kami menyambut  di kali pertama kau menghembuskan nafas.

Semakin kencang, semakin kau telah menunjukkan bahwa engkau sudah siap untuk memulai setiap fase hidupmu, kau katakan pada dunia bahwa kau mampu, berusaha mempertahankan dengan tubuh mungil merah jambu.

Mata sang Ibu tak henti menatap setiap lekuk tubuhmu, setiap gerakmu, merasakan setiap degub jantungmu, mendengarkan setiap suara keluar dari bibirmu, sebagai wujud satu jiwa yang Dia titipkan, sebuah anugerah dariNya.

Dan menjadi bagian di hari bahagia itu sungguh luar biasa rasanya, sebuah moment penting dalam hidupmu, dan tentu saja, sebuah pengalaman yang begitu berarti untukku. =)

Namun seringkali, tangis kencang yang kami nantikan tak juga terdengar, hanya sekedar merintih, atau bahkan tak kau tunjukkan sama sekali.

Kau dengan tubuh super kecil itu,

Masih lelah dan enggan untuk memulai hari, setelah menghadapi masa sulit di awal hidupmu. Seakan kau tahu, ada air mata yang mewarnai, membersamai kedatanganmu.

Berada di dalam kotak kaca itu, menggeliat perlahan dengan selang yang terjuntai..

Bagaimanapun keadaannya, kau mencoba berjuang, mengumpulkan  setiap sisa kekuatan yang ada.

Tanpa pelukan yang kau harapkan, tanpa kecupan yang kau nantikan.

Air mata terurai, nafas panjang tertahan, meluruhkan hati setiap mata memandang.

Tapi aku yakin, bagaimanapun, kau datang tidak tanpa alasan.

Semoga kau mengerti, kami disini ada untukmu, membantumu agar kau siap untuk melewati harimu sendiri nantinya.

Cukup percaya, bahwa tak pernah ada usaha disertai doa yang sia-sia.

Perinatologi RSUD Banyumas,

Februari 2011.

“I dont know what baby would have chosen, who is born just to cause heartache? Naturally babies dont have to be considerate beings, compromising and consideration should come all from their lovely one only. Parent.“ –taken from Ob&Gyn movie-

Garis Tanpa Batas

Lagi-lagi rasa itu datang lagi

Januari 2010.

Kadang, terfikir olehku, mengapa harus mereka? Mengapa harus mereka yang menanggung beban seberat itu?

Rasa itu semakin menohokku, membawaku ke sebuah garis tanpa batas. Yang hanya diketahui olehNya, rahasiaNya.

Aku selalu tak mampu untuk menahan perasaan ini. Apa aku yang terlalu lemah? Tapi kesemuanya selalu memberikan arti, meninggalkan sebuah pesan bahwa hidup memang tak seindah kelihatannya.

****

Dia yang hanya bisa menatap jendela, diam, dan menerawang jauh. Entah apa yang dipikirkan anak berusia 15 tahun itu, mungkinkah ia berpikir hal yang sama denganku? Mengapa harus dirinya?

Bahkan senyumkupun tak mampu untuk menahan airmata yang sesekali mengalir ke pipinya.

Sang Ibu? Mungkin sudah tak ada air mata yang tersisa. Menatapku lekat, seperti berusaha mencari jawaban atas semua pertanyaan di benaknya. Aku yakin itu adalah ketegaran, sebuah perasaan yang ia coba pertahankan atas semua yang terjadi.

****

Tak seorangpun tahu. Hanya Ia yang memiliki jawabanNya.

Dan air mata memberikan pelajaran, bahwa ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk mensyukuri  setiap hembusan nafas ini, setiap nikmat sehat ini.

8 Hari 7 Malam

Mei 2010

Minggu, Senin, Selasa, Rabu. Sungguh hari-hari itu terasa berjuta tahun lamanya. Rasanya hari seperti enggan berganti, karena setiap kuhitung hari, masih saja jauh dengan akhir minggu. Baru hari ke-4, langkahku sudah mulai gontai. Sudah tak peduli, setengah kuseret kakiku untuk berjalan menuju bangsal pasien yang tampaknya terasa menjadi lebih jauh. Yang penting, sudah kupastikan bahwa aku membawa semuanya. Stetoskop sudah terkalung di leher dan kertas daftar pasien yang terlipat di saku putihku. Menilai keadaan pasien, menanyakan keluhannya, mengevaluasi kondisi serta memeriksa status vitalnya ( tensi, nadi, nafas dan temperatur) adalah hal yang wajib dilakukan. Termasuk beruntung, bila kondisi pasien titipan hari itu dalam kondisi stabil. Tapi sudah biasa pula jika memang harus ada yang diperiksa status vitalnya setiap jam atau bahkan tiap 15 menit karena kondisinya yang kritis, atau karena penyakit diabetes dengan kadar gula yang sangat tinggi, pasien tersebut harus dicek gula darah sepanjang malam untuk penyesuaian pemberian insulinnya. Dan itu menjadi bagian dari tugas kami, koas yang sedang JAGUM selama satu minggu ini.

*****

JAGUM. Jaga Umum. Salah satu bagian dari rotasi klinik di bagian Penyakit Dalam, yang mewajibkan koas untuk jaga di 4 bangsal pasien penyakit dalam selama satu minggu penuh, yang artinya, kami pindah rumah ke bangsal penyakit dalam untuk satu minggu itu. =P.  Dan saat itu kami berempat, masing-masing bertanggung jawab untuk 1 bangsal pasien. Dengan pasien titipan tiap bangsal kurang lebih 10 pasien.

 

Setiap sore hingga pagi hari berikutnya, penjagaan bangsal pasien penyakit dalam terdiri dari kapten yang merupakan kepala dari 2 dokter bangsal, 1 dokter admisi yang bertugas memeriksa pasien yang baru masuk, serta chief, dokter yang merupakan bos dari seluruh dokter tersebut. Dan para koas? Hanyalah sesosok pembelajar2 yang siap membantu dokter bangsal serta tak lupa membuntuti dokter admisi untuk belajar memeriksa pasien baru. ^__^

 

Diatas pukul 23.00 di setiap malam, kami berempat sepakat untuk membagi tugas jaga kami. Akan ada 1 orang yang harus tetap terjaga dan menggantikan semuanya untuk melakukan tugas memonitor pasien di keempat bangsal, maupun memeriksa pasien baru jika memang ada, sementara yang lainnya sekedar memejamkan mata sejenak. Hal itu kita lakukan bergiliran sampai pagi. Saling membangunkan satu sama lain, dan bergantian jaga. Setidaknya itu sangat efektif dan memberi kesempatan pada tubuh ini untuk beristirahat barang hanya beberapa jam saja. Jika jam tidur sudah datang, kami menggotong sebuah kasur dari (yg seharusnya ) kamar koas, menuju ruang tempat biasanya bimbingan koas dilakukan. Yah, setidaknya itu tempat paling layak dan nyaman untuk beristirahat. Betapa merupakan pengalaman yang menggelikan, ketika setiap malam kami berebut kasur, karena kasur berukuran kecil itu, harus kami pakai untuk bertiga. Hehehe… Sementara 1 teman saya, harus rela tidur di atas kursi di ujung ruangan itu..hanya karena dia laki-laki satu2nya..=D

 

Setiap malam tak pernah sama. Terkadang bangsal begitu sepi, dan pasien titipan terlihat aman-aman saja. Namun terkadang, pasien tak berhenti datang dari UGD, ataupun pasien titipan yang kondisinya masih saja naik turun dan membutuhkan pengawasan ekstra, membuat semuanya tetap terjaga sepanjang malam hingga pagi datang.

Menjelang pagi hari, semua konsentrasi kami, maupun para residen jaga menjadi beralih pada LAPORAN PAGI. Jadi setiap pagi akan ada staff (dokter penyakit dalam) yang datang untuk menerima laporan jaga dari para koas JAGUM dan para residen jaga secara terpisah. Setiap pagi selama satu minggu penuh, kamilah yang bertanggungjawab mempresentasikan laporan jaga, sensus pasien bangsal, maupun laporan pasien baru sepanjang 1 hari itu.

*****

Hari ke-4 JAGUM adalah puncak keletihanku. Rasanya sudah rindu sekali dengan rumah, rindu dengan kasur kamarku. Rindu dengan televisi. Hahaha..=P 4 hari 3 malam di dalam bangsal rumah sakit, walaupun kami menyempatkan pulang ±2 jam di siang hari, tetap saja sudah menguras hampir seluruh energiku. Meski hanya bertugas untuk mengevaluasi pasien titipan sepanjang malam, memeriksa semua pasien baru, membuat laporan untuk dipresentasikan keesokan harinya, ternyata itu semua tetap saja sangat melelahkan. Masih kuingat, ketika untuk berjalan saja tungkai kaki kiriku seakan mau copot. Tanganku mulai terasa sangat kepayahan memompa tensi meter untuk yang kesekian kalinya. Badanku pun sudah memohon-mohon untuk beristirahat. Tapi semuanya menjadi teracuhkan ketika melihat list tugas sepanjang malam yang harus kami kerjakan, ketika setiap memasuki kamar pasien yang ada hanya pertanyaan dari pasien dan keluarganya mengenai bagaimana keadaannya, bagaimana sebaiknya, harus berbuat apa, hingga yang paling mendasar, memastikan bahwa kesembuhan bukan hal yang mustahil terjadi. Dan ketika menyadari bahwa setiap jam begitu penting untuk mereka, bahwa bisa terjadi apapun di setiap menit yang berjalan, maka rasa letih ini bukan apa-apa, rasa mengantuk yang menggelayut ini tak sebanding dengan rasa sakit yang mereka alami. Tak sebanding.

*****

Di sudut ruangan itu, seorang pasien dengan HIV-AIDS positif, masih saja dalam keadaan kritis. Suhu badannya meningkat hingga 39°C, keringat dingin, wajahnya sangat pucat, batuk-batuk dan bernafas cepat untuk memenuhi kebutuhan oksigennya. HIV yang ada di dalam tubuhnya membuat ia rentan terhadap infeksi oportunistik, yaitu infeksi yang terjadi karena keadaan imun tubuh yang sangat rendah, termasuk infeksi saluran pernafasan. Tensinya hanya 90/60, dan pada akhirnya, setelah diberikan terapi, setiap setengah jam aku harus memeriksa status vitalnya untuk  memastikan bahwa tensinya tidak semakin turun, dan suhu badannya tidak terus naik..dan Alhamdulillah, sebelum tengah malam, kondisinya sudah lebih baik.

Masih lekat pula diingatan dengan seorang bapak yang menderita DM (Diabetes Mellitus) dengan kadar gula darah dapat mencapai 300 lebih, yang juga membuatku harus sepanjang malam, setiap jam mengecek gula darahnya, melapor ke chief residen untuk penyesuaian dosis insulin dripnya. Seorang Ibu, mengalami penurunan kesadaran yang sudah lebih dari 3 hari, dengan riwayat CKD (Gagal ginjal kronik), dan anaknya selalu berada disampingnya, membisikkan “Allahu Akbar” di telinga ibunya, setiap menit, setiap jam…

Dan tak akan lupa juga, kegigihan seorang ibu dalam melawan kanker darah yang dideritanya. Begitu mengharukan ketika ia bercerita bagaimana ia berusaha menghadapi itu semua, mengubah cobaan yang ia alami menjadi sebuah keyakinan bahwa itu adalah bentuk kasih sayang Allah yang lebih kepada dirinya. Tak sedikit pasien yang justru memberiku semangat, keyakinan dan mendoakan agar suatu saat nanti dapat menjadi seorang dokter yang baik. Ah, trenyuh sekali mendengarnya. =’)  Dan dengan senyuman, kujawab “Amiinn, Insya Allah.”

Setiap hari selalu ada pengalaman, setiap pasien selalu ada cerita, dan tentu saja, terekam menjadi sebuah kenangan yang begitu berharga.. =)

*****

Hari-hari berikutnya, ternyata terasa lebih cepat, pada akhirnya semuanya seperti berjalan dengan sendirinya, hingga hari Minggupun tiba. Pukul 07.30 kelompok koas yang akan menggantikan kami sudah datang. And finally our story was end.

Satu minggu yang luar biasa,. Membuatku mengenal lebih dekat mengenai profesi ini, belajar untuk lebih mengerti dan memahami.. =) Tak terhitung, pelajaran dari staff, residen maupun pasien yang dapat dipetik. Ketelodoran dan kebodohan kamipun, menjadi pelengkap yang begitu berharga untuk dikenang. ^^

Ketika pertama kali bangun tidur, yang dicari adalah stetoskop, tensi, termometer, dan langsung bergegas ke kamar pasien..

Ketika alat pengukur gula darah satu-satunya sempat hilang, dan kami berempat sangat panik karena begitu banyak pasien DM yang harus dicek..

Ketika pada malam pertama, karena ketidaktahuan, dengan suksesnya kami ketiduran,dan kemudian kena marah chief residen karena tak satupun pasien baru kami periksa..

Ketika kami terkantuk kantuk di depan dokter pembimbing ketika harus tutorial kasus siang harinya..hahaha..

Tapi tetaaaap saja, hari selesainya JAGUM adalah hari yang dinanti. Hari dimana tak ada kertas pasien titipan, hari dimana tak ada laporan pagi yang menegangkan, tapi menjadai hari tidur nyenyak dan memulihkan kembali energi, untuk kembali lagi ke aktivitas di Rumah Sakit seperti biasa di hari berikutnya. =)

 

kami bertigaaa..^^ Haha..itu gambar mienya aku tutupin, biar gak ngiklaaann..=P Jadi, hidangan dari RS tiap malamnya adalah 1 bungkus indomi, 1 butir telur, dan 1 sacchet coffemix.. hehehe

Ruang Hijau

Aku sendiri kurang begitu tau mengapa harus warna hijau. Hmmm, tapi terkadang hijau toska, biru toska, atau biru kehijauan. But that’s not the important thing. Yang terpenting, setiap orang yang akan masuk ke ruang tersebut, wajib untuk menggunakan baju dan celana khusus, masker, serta penutup kepala. Dan lagi-lagi semuanya itu berwarna hijau.

Stase Anestesi yang memperkenalkanku pada ruang ini. Ruang Operasi. Atau yang biasa para dokter dan tenaga medis lain sebut: OK. ( baca: O-Ka ). Itu adalah kali pertamaku melihat dan masuk ke dalam OK. Alhamdulillah, sebelumnya tak pernah ada cerita yang membuatku harus masuk ke ruang itu..=P.  Sterilitas ruang operasi sangat dijaga, itu mengapa hanya orang tertentu saja yang boleh masuk, itupun wajib menggunakan pakaian yang telah disediakan. Hanya ada sang dokter spesialis, residen ( dokter yang sedang dalam masa pendidikan mengambil spesialisasi), dan para perawat. Oh, dan tentunya kami, para koas..=). And this post is just about my daily activities at Anesthesiology Department..

Di stase Anestesi ini, setiap hari kami harus masuk ke dalam OK dan mengikuti jalannya operasi dari awal hingga akhir, sebagai proses pembelajaran tentunya. Oleh karena itu, begitu banyak hal dan pengalaman baru yang kudapatkan selama menjalani rotasi klinik di stase tersebut. ^^

*****

Proses anestesi (pembiusan) ternyata tidak semudah yang kuduga sebelumnya. Begitu banyak aspek yang perlu diperhatikan, salah satunya kondisi pasien itu sendiri. Satu hari sebelum operasi, seorang dokter anestesi ( klo di sardjito dilakukan oleh Residen Anestesi ) melakukan pemeriksaan fisik pada pasien untuk memastikan bahwa pasien dalam kondisi yang aman untuk dilakukan anestesi. Mulai dari keadaan fisik, dari hasil tes darah, maupun tes fungsi beberapa organ : jantung, hati, dan ginjal. Harus dipastikan juga riwayat operasi sebelumnya, maupun riwayat alergi, karena akan sangat terkait dengan obat-obatan yang akan diberikan. Bila segalanya memang baik, barulah pasien disiapkan untuk operasi.

Ada banyak pasien yang kutemui begitu mencemaskan mengenai operasi yang akan dijalaninya. Takut akan prosesnya dan khawatir mengenai keberhasilan operasi,. rata-rata begitu. Yeah, wajar saja. Siapa sih yang tak takut akan hal itu? Dokterlah yang harus menjelaskan semuanya, mengapa harus dilakukan operasi, tujuan, manfaatnya, bahkan resiko yang dihadapi maupun tingkat keberhasilannya.

Di dalam ruang operasi, kami belajar proses dilakukannya anestesi dari awal hingga akhir. Saat pasien sudah siap di meja operasi dan monitor telah terpasang seluruhnya, pertama akan dimasukkan obat2an untuk mengawali anestesi. Obat2an tersebut bertujuan untuk menenangkan pasien, mengurangi kecemasan, serta mengurangi nyeri (analgetik). Oiyaa, informasi tambahan, obat analgetik yang digunakan disini adalah golongan opioid (analgesia narkotika). Biasanya, yang digunakan adalah Fentanyl, gol. Opioid sintetik kuat. Bahkan, dikatakan di buku saya, Fentanyl memilki efek 100x Morfin!!! Oh no…>,<.  Biasanya, setelah pemberian obat2an tersebut, pasien menjadi relatif tenang, dan kemudian dimasukkan obat inti dari proses pembiusan ini. Disebut obat induksi anestesi. Obat induksi anestesi inilah yang akhirnya membuat pasien dari kondisi sadar, menjadi tidak sadar. Secara garis besar, kerja dari obat anestesi ini menekan hampir semua sistem di tubuh kita. Sistem saraf pusat, pernafasan, pencernaan, maupun fungsi jantung. Oleh karena itu, proses pembiusan ini harus benar2 dipantau agar sesuai pada tempatnya. Karena menekan sistem pernafasan, setelah diberikan obat induksi ini, dilakukan bantuan pernafasan pada pasien dengan menggunakan Face-mask dan bag, yaitu sungkup yang dipasangkan pada wajah yang dihubungkan dengan bag, kantong untuk memompakan udara. Selanjutnya, masih untuk membantu proses pembiusan, dimasukkan obat pelumpuh otot. Obat ini terutama merelaksasikan otot pernafasan untuk memudahkan proses selanjutnya, yaitu intubasi. Intubasi adalah proses memasukkan tube/ selang hingga trakea (tenggorokan), disebut dengan Endotracheal Tube (ET). Dengan adanya tube ini, tidak perlu lagi digunakan face-mask untuk membantu pernafasan. Untuk memasukkan ET, perlu digunakan alat yang disebut dengan laringoskop, yang membantu visualisasi rongga mulut hingga laring,sampai terlihat pita suara yang merupakan pintu dari jalan pernafasan, sehingga ET dapat lebih mudah dan tepat untuk masuk ke dalam trakea. Proses terakhir dari anestesi ini ialah menghubungkan ET dengan mesin anestesi, yang berisikan O2 serta obat anestesi berbentuk gas untuk maintanance proses pembiusan. Tetap dihubungkan pula dengan Bag, untuk memompakan secara manual (Bagging ),sesuai dengan irama pernafasan pasien. Hal tersebut yang dipertahankan hingga akhir operasi dengan tetap memonitor tanda vital dari pasien ( Tekanan darah, Nadi, Irama respirasi ). Ketegangan kami mulai memuncak ketika sampai di hari kami harus mengerjakan itu semua di depan seorang konsulen ( dokter spesialis ) anestesi. Tegang, karena itu semua menjadi penilaian, serta karena tanggung jawab keamanan pada pasien.

 

Intubasi

Hufft, ternyata bila dituliskan, menjadi paragraf yg panjang sekalii..>,<. Kira-kira seperti itulah aktivitas kami, para koas anestesi di dalam OK. Kami mengerjakan hal tersebut secara berkelompok, ada yang bertugas menyiapkan dan memasukkan obat, membuat laporan anestesi dan memonitor kondisi pasien, serta tugas utama dari proses ini, intubasi. Butuh pengalaman dan ketrampilan untuk melakukan intubasi dengan baik, bila tidak, bisa-bisa si selang justru masuk ke lambung, bukan ke saluran nafas. Proses intubasi juga harus < 15 detik, karena dari dimasukkan Laringoskop sampai ET dihubungkan dengan mesin, pernafasan pasien dalam kondisi yang terdepresi, sehingga proses tersebut harus dilakukan dengan cepat. Pembiusan yang aku ceritakan diatas adalah pembiusan total, disebut dengan General Anesthesi (GA), yang membuat pasien sama sekali tak sadarkan diri. Sementara untuk operasi tertentu, cukup dilakukan Regional Anesthesi (RA). Pada RA pasien masih sadar sepenuhnya, karena hanya bagian bawah dari tubuh saja yang di bius.

*****

Saat itu malam minggu, dan aku sedang menunaikan jadwal jagaku di OK UGD; Ruang Operasi yang dikhususkan untuk menangani pasien emergency. Hmm, entah mengapa malam itu begitu banyak SC (Operasi Sesar).. mungkin hari istimewa bagi si ibu atau bayi, haha..just my guess. Menjadi koas yang berjaga sendirian bukan hal yang menyenangkan, apalagi di malam minggu  =.=. Semuanya sibuk, para dokter, residen, perawat,,sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Dan aku? Karena untuk operasi SC hanya dilakukan RA, yang memang bukan kompetensi kami, maka aku hanya sebagai penonton disitu. Tengah malam tiba dan seorang residen mengajakku menemaninya ke bangsal pasien untuk melakukan injeksi epidural pasca operasi pada beberapa pasien obstetri. Obat yang diinjeksikan adalah morfin, untuk mengurangi rasa sakit setelah operasi. Yah, setidaknya aku tidak menganggur..

 

01.00 AM. OK UGD sudah mulai sepi. Belum ada operasi lagi yang akan dilakukan. Beberapa residen sudah turun ke UGD lt.1 untuk istirahat. Tapi ada pula yang memilih untuk tidur di sofa di ruang baca. Para perawat juga sudah mulai menggelar tikar dan kasur serta mematikan lampu. Beruntung, ada seorang perawat yang menawariku kasur yang masih sisa untuk aku gunakan. Ditemani suara MP3 milik perawat disebelahku yang mendendangkan lagu Anang-Syahrini, akupun tertidur…

02.30 AM. Aku terjaga dari tidurku. Terdengar suara ramai disekeliling. Kutengok sebelah, ternyata si perawat sudah tak ada. Aku bangun, dan melihat residen anestesi sedang membawa seorang pasien. Seorang lelaki paruh baya. Kutanyai, dia masih bisa menjawab bahwa dirinya baru saja mengalami kecelakaan. Terjadi perlukaan dan perdarahan yang hebat pada wajahnya. Residen anestesi mulai memintaku untuk membantunya. Mengganti phlabot (botol) infus pasien, dan mengambil beberapa obat anestesi di depo farmasi. Ketegangan mulai muncul di antara para residen anestesi karena ternyata kondisi wajah dari si pasien kurang mendukung untuk dilakukan intubasi. Kemungkinan terjadi fraktur maxilla (rahang atas), kulit sekitar rongga mulutnya sudah tak lagi intak, serta leher yang cukup pendek menambah penyulit untuk dilakukan face-mask dan intubasi. Setelah terjadi diskusi yang panjang, akhirnya berhasil diselesaikan, dan proses anestesi dapat berlangsung dengan baik. Pyuuuhh,,cukup membuat deg-degan saat-saat itu, nyawa pasienlah yang dipertaruhkan.

2 Jam, 3 Jam… waktu berlalu dan operasi yang dilakukan untuk memperbaiki wajah dari si pasien masih berlangsung.  Sambil sesekali memasukkan obat analgetik untuk maintanance anestesinya, aku diajarkan banyak hal oleh si residen. =)

07.30 AM. Belum juga selesai, dan proses operasi baru berjalan setengahnya. Para residen sudah mulai berganti shift jaga. Akupun begitu,, oh akhirnyaaaa… temanku yang terjadwal di shif berikutnya datang dan aku bersiap pulang pagi itu..=). Dan menurut cerita darinya, operasi ternyata baru selesai pukul 11 siang. Omigod..>,<

*****

Selain di OK UGD, Koas anestesi juga dijadwalkan untuk jaga di ICU (Intensive Care Unit ). Karena bukan hanya berhubungan dengan proses pembiusan di ruang operasi, tapi seorang dokter anestesi juga bertanggungjawab terhadap pasien dengan kondisi kritis. Berhubungan dengan pasien yang hampir seluruhnya tidak dalam kondisi sadar, yang nafasnya bergantung dengan ET yang dihubungkan dengan mesin (ventilator), yang  tubuhnya dialiri oleh berbagai macam cairan, dan semuanya itu adalah pasien dengan kondisi yang memerlukan perhatian ekstra.

Di Rumah sakit daerah, saat itu di RSUD Sleman dan RSUD Cilacap, satu orang residen anestesi bertanggung jawab terhadap beberapa operasi yang dikerjakan setiap harinya. Selesai mengerjakan pembiusan di salah satu ruang, harus bergegas ke ruang lainnya untuk mengerjakan hal yang sama. Belum lagi ditambah dengan operasi-operasi emergency yang mungkin di lakukan, serta seluruh pasien yang ada di ICU. Oh, sungguh tak terbayang betapa sibuknya.

*****

Sama seperti dokter bedah, bagi seorang dokter anestesi, ruang hijau itu mungkin sudah menjadi bagian dari hidupnya. Lebih banyak menghabiskan waktu di dalam sana ketimbang di luar, dengan para pasien yang secara disengaja dibuat tak sadarkan diri ataupun tak sadar oleh karena penyakitnya.  Suasana seperti itu hanya kurasakan satu malam saja. Tapi bagi mereka? Tak akan terhitung berapa malam yang dihabiskan.

Mother,I love u!!!

Bagiku,

Beliau adalah seorang Istri yang sangat mulia dan seorang Ibu yang terhebat untuk kami bertiga, Aku dan kedua kakakku.

Beliau bukan Ibu yang ketika malam hari, mencium keningku ketika aku hendak tidur.

Bukan yang mengelus-elus kepalaku ketika aku berpamitan hendak pergi.

Bukan pula yang selalu menghapus airmataku disetiap aku menangis.

Bukan.

Bagiku, Ibu lebih dari sekedar itu.

Aku belajar padanya tentang kelemahlembutan, sikap seorang ibu yang sungguh kudambakan..

Aku belajar padanya tentang kesederhanaan, yang senantiasa aku lihat dari beliau..

Aku belajar padanya tentang kesabaran, kesabaran ibu yang tak pernah ada batasnya..

Aku belajar padanya tentang ketegaran, yang selalu tercermin ketika ia menghadapi     masalah..

Aku belajar padanya tentang perjuangan, perjuangan yang tak pernah berhenti ia lakukan..

Aku belajar padanya tentang pengorbanan, yang beliau lakukan demi orang-orang yang Ia kasihi.

Aku belajar padanya tentang kasih sayang yang banyak ia berikan untuk orang lain disekelilingnya..

Tak pernah ia memintaku untuk melakukan itu. Tak pernah. Tapi beliau senantiasa mengamalkannya di sepanjang hariku bersamanya, setiap waktu.

Sebuah tauladan yang tak akan aku dapatkan di bangku sekolah.

Sebuah pelajaran yang berharga bagiku, bukan hanya untuk kumengerti, tapi untuk aku amalkan.  =)

*****

Dan, ini sebuah lagu untukmu,Ibu…

Ibu

(By : Dinda, June 2010)

Jika aku diminta untuk mengatakan, wanita paling kusayangi di dunia ini..

Jika aku diminta untuk menyebutkan, siapakah orang yang paling berharga..

Itu adalah Ibu..

Jika aku diminta untuk mengatakan, wanita yang paling menginspirasiku..

Jika aku diminta untuk menyebutkan, siapakah orang yang buatku bertahan..

Itu adalah Ibu

*Hanya Ibu, yang membuatku mengerti arti cinta

Oh karena ibu, kupercaya bahwa aku bisa, meraih semua mimpi-mimpiku..

Reff : Karena kasih sayangmu,Ibu…Buatku pahami bahwa, tiada yang lebih di dunia selain, tulusnya cintamu..

Karena pengorbananmu, Ibu.. Buatku tersadar bahwa takkan bisa, ku membalas semua lelah, semua letihmu..

Kumencintaimu…selamanya..

This song is dedicated to my mom, who always besides me, in every way i take..

And for all mothers in this world..

Great generation always born from a great woman..

Love u mom..=)


Older Posts »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 70 other followers