Aku sendiri kurang begitu tau mengapa harus warna hijau. Hmmm, tapi terkadang hijau toska, biru toska, atau biru kehijauan. But that’s not the important thing. Yang terpenting, setiap orang yang akan masuk ke ruang tersebut, wajib untuk menggunakan baju dan celana khusus, masker, serta penutup kepala. Dan lagi-lagi semuanya itu berwarna hijau.
Stase Anestesi yang memperkenalkanku pada ruang ini. Ruang Operasi. Atau yang biasa para dokter dan tenaga medis lain sebut: OK. ( baca: O-Ka ). Itu adalah kali pertamaku melihat dan masuk ke dalam OK. Alhamdulillah, sebelumnya tak pernah ada cerita yang membuatku harus masuk ke ruang itu..=P. Sterilitas ruang operasi sangat dijaga, itu mengapa hanya orang tertentu saja yang boleh masuk, itupun wajib menggunakan pakaian yang telah disediakan. Hanya ada sang dokter spesialis, residen ( dokter yang sedang dalam masa pendidikan mengambil spesialisasi), dan para perawat. Oh, dan tentunya kami, para koas..=). And this post is just about my daily activities at Anesthesiology Department..
Di stase Anestesi ini, setiap hari kami harus masuk ke dalam OK dan mengikuti jalannya operasi dari awal hingga akhir, sebagai proses pembelajaran tentunya. Oleh karena itu, begitu banyak hal dan pengalaman baru yang kudapatkan selama menjalani rotasi klinik di stase tersebut. ^^
*****
Proses anestesi (pembiusan) ternyata tidak semudah yang kuduga sebelumnya. Begitu banyak aspek yang perlu diperhatikan, salah satunya kondisi pasien itu sendiri. Satu hari sebelum operasi, seorang dokter anestesi ( klo di sardjito dilakukan oleh Residen Anestesi ) melakukan pemeriksaan fisik pada pasien untuk memastikan bahwa pasien dalam kondisi yang aman untuk dilakukan anestesi. Mulai dari keadaan fisik, dari hasil tes darah, maupun tes fungsi beberapa organ : jantung, hati, dan ginjal. Harus dipastikan juga riwayat operasi sebelumnya, maupun riwayat alergi, karena akan sangat terkait dengan obat-obatan yang akan diberikan. Bila segalanya memang baik, barulah pasien disiapkan untuk operasi.
Ada banyak pasien yang kutemui begitu mencemaskan mengenai operasi yang akan dijalaninya. Takut akan prosesnya dan khawatir mengenai keberhasilan operasi,. rata-rata begitu. Yeah, wajar saja. Siapa sih yang tak takut akan hal itu? Dokterlah yang harus menjelaskan semuanya, mengapa harus dilakukan operasi, tujuan, manfaatnya, bahkan resiko yang dihadapi maupun tingkat keberhasilannya.
Di dalam ruang operasi, kami belajar proses dilakukannya anestesi dari awal hingga akhir. Saat pasien sudah siap di meja operasi dan monitor telah terpasang seluruhnya, pertama akan dimasukkan obat2an untuk mengawali anestesi. Obat2an tersebut bertujuan untuk menenangkan pasien, mengurangi kecemasan, serta mengurangi nyeri (analgetik). Oiyaa, informasi tambahan, obat analgetik yang digunakan disini adalah golongan opioid (analgesia narkotika). Biasanya, yang digunakan adalah Fentanyl, gol. Opioid sintetik kuat. Bahkan, dikatakan di buku saya, Fentanyl memilki efek 100x Morfin!!! Oh no…>,<. Biasanya, setelah pemberian obat2an tersebut, pasien menjadi relatif tenang, dan kemudian dimasukkan obat inti dari proses pembiusan ini. Disebut obat induksi anestesi. Obat induksi anestesi inilah yang akhirnya membuat pasien dari kondisi sadar, menjadi tidak sadar. Secara garis besar, kerja dari obat anestesi ini menekan hampir semua sistem di tubuh kita. Sistem saraf pusat, pernafasan, pencernaan, maupun fungsi jantung. Oleh karena itu, proses pembiusan ini harus benar2 dipantau agar sesuai pada tempatnya. Karena menekan sistem pernafasan, setelah diberikan obat induksi ini, dilakukan bantuan pernafasan pada pasien dengan menggunakan Face-mask dan bag, yaitu sungkup yang dipasangkan pada wajah yang dihubungkan dengan bag, kantong untuk memompakan udara. Selanjutnya, masih untuk membantu proses pembiusan, dimasukkan obat pelumpuh otot. Obat ini terutama merelaksasikan otot pernafasan untuk memudahkan proses selanjutnya, yaitu intubasi. Intubasi adalah proses memasukkan tube/ selang hingga trakea (tenggorokan), disebut dengan Endotracheal Tube (ET). Dengan adanya tube ini, tidak perlu lagi digunakan face-mask untuk membantu pernafasan. Untuk memasukkan ET, perlu digunakan alat yang disebut dengan laringoskop, yang membantu visualisasi rongga mulut hingga laring,sampai terlihat pita suara yang merupakan pintu dari jalan pernafasan, sehingga ET dapat lebih mudah dan tepat untuk masuk ke dalam trakea. Proses terakhir dari anestesi ini ialah menghubungkan ET dengan mesin anestesi, yang berisikan O2 serta obat anestesi berbentuk gas untuk maintanance proses pembiusan. Tetap dihubungkan pula dengan Bag, untuk memompakan secara manual (Bagging ),sesuai dengan irama pernafasan pasien. Hal tersebut yang dipertahankan hingga akhir operasi dengan tetap memonitor tanda vital dari pasien ( Tekanan darah, Nadi, Irama respirasi ). Ketegangan kami mulai memuncak ketika sampai di hari kami harus mengerjakan itu semua di depan seorang konsulen ( dokter spesialis ) anestesi. Tegang, karena itu semua menjadi penilaian, serta karena tanggung jawab keamanan pada pasien.

Intubasi
Hufft, ternyata bila dituliskan, menjadi paragraf yg panjang sekalii..>,<. Kira-kira seperti itulah aktivitas kami, para koas anestesi di dalam OK. Kami mengerjakan hal tersebut secara berkelompok, ada yang bertugas menyiapkan dan memasukkan obat, membuat laporan anestesi dan memonitor kondisi pasien, serta tugas utama dari proses ini, intubasi. Butuh pengalaman dan ketrampilan untuk melakukan intubasi dengan baik, bila tidak, bisa-bisa si selang justru masuk ke lambung, bukan ke saluran nafas. Proses intubasi juga harus < 15 detik, karena dari dimasukkan Laringoskop sampai ET dihubungkan dengan mesin, pernafasan pasien dalam kondisi yang terdepresi, sehingga proses tersebut harus dilakukan dengan cepat. Pembiusan yang aku ceritakan diatas adalah pembiusan total, disebut dengan General Anesthesi (GA), yang membuat pasien sama sekali tak sadarkan diri. Sementara untuk operasi tertentu, cukup dilakukan Regional Anesthesi (RA). Pada RA pasien masih sadar sepenuhnya, karena hanya bagian bawah dari tubuh saja yang di bius.
*****
Saat itu malam minggu, dan aku sedang menunaikan jadwal jagaku di OK UGD; Ruang Operasi yang dikhususkan untuk menangani pasien emergency. Hmm, entah mengapa malam itu begitu banyak SC (Operasi Sesar).. mungkin hari istimewa bagi si ibu atau bayi, haha..just my guess. Menjadi koas yang berjaga sendirian bukan hal yang menyenangkan, apalagi di malam minggu =.=. Semuanya sibuk, para dokter, residen, perawat,,sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Dan aku? Karena untuk operasi SC hanya dilakukan RA, yang memang bukan kompetensi kami, maka aku hanya sebagai penonton disitu. Tengah malam tiba dan seorang residen mengajakku menemaninya ke bangsal pasien untuk melakukan injeksi epidural pasca operasi pada beberapa pasien obstetri. Obat yang diinjeksikan adalah morfin, untuk mengurangi rasa sakit setelah operasi. Yah, setidaknya aku tidak menganggur..
01.00 AM. OK UGD sudah mulai sepi. Belum ada operasi lagi yang akan dilakukan. Beberapa residen sudah turun ke UGD lt.1 untuk istirahat. Tapi ada pula yang memilih untuk tidur di sofa di ruang baca. Para perawat juga sudah mulai menggelar tikar dan kasur serta mematikan lampu. Beruntung, ada seorang perawat yang menawariku kasur yang masih sisa untuk aku gunakan. Ditemani suara MP3 milik perawat disebelahku yang mendendangkan lagu Anang-Syahrini, akupun tertidur…
02.30 AM. Aku terjaga dari tidurku. Terdengar suara ramai disekeliling. Kutengok sebelah, ternyata si perawat sudah tak ada. Aku bangun, dan melihat residen anestesi sedang membawa seorang pasien. Seorang lelaki paruh baya. Kutanyai, dia masih bisa menjawab bahwa dirinya baru saja mengalami kecelakaan. Terjadi perlukaan dan perdarahan yang hebat pada wajahnya. Residen anestesi mulai memintaku untuk membantunya. Mengganti phlabot (botol) infus pasien, dan mengambil beberapa obat anestesi di depo farmasi. Ketegangan mulai muncul di antara para residen anestesi karena ternyata kondisi wajah dari si pasien kurang mendukung untuk dilakukan intubasi. Kemungkinan terjadi fraktur maxilla (rahang atas), kulit sekitar rongga mulutnya sudah tak lagi intak, serta leher yang cukup pendek menambah penyulit untuk dilakukan face-mask dan intubasi. Setelah terjadi diskusi yang panjang, akhirnya berhasil diselesaikan, dan proses anestesi dapat berlangsung dengan baik. Pyuuuhh,,cukup membuat deg-degan saat-saat itu, nyawa pasienlah yang dipertaruhkan.
2 Jam, 3 Jam… waktu berlalu dan operasi yang dilakukan untuk memperbaiki wajah dari si pasien masih berlangsung. Sambil sesekali memasukkan obat analgetik untuk maintanance anestesinya, aku diajarkan banyak hal oleh si residen. =)
07.30 AM. Belum juga selesai, dan proses operasi baru berjalan setengahnya. Para residen sudah mulai berganti shift jaga. Akupun begitu,, oh akhirnyaaaa… temanku yang terjadwal di shif berikutnya datang dan aku bersiap pulang pagi itu..=). Dan menurut cerita darinya, operasi ternyata baru selesai pukul 11 siang. Omigod..>,<
*****
Selain di OK UGD, Koas anestesi juga dijadwalkan untuk jaga di ICU (Intensive Care Unit ). Karena bukan hanya berhubungan dengan proses pembiusan di ruang operasi, tapi seorang dokter anestesi juga bertanggungjawab terhadap pasien dengan kondisi kritis. Berhubungan dengan pasien yang hampir seluruhnya tidak dalam kondisi sadar, yang nafasnya bergantung dengan ET yang dihubungkan dengan mesin (ventilator), yang tubuhnya dialiri oleh berbagai macam cairan, dan semuanya itu adalah pasien dengan kondisi yang memerlukan perhatian ekstra.
Di Rumah sakit daerah, saat itu di RSUD Sleman dan RSUD Cilacap, satu orang residen anestesi bertanggung jawab terhadap beberapa operasi yang dikerjakan setiap harinya. Selesai mengerjakan pembiusan di salah satu ruang, harus bergegas ke ruang lainnya untuk mengerjakan hal yang sama. Belum lagi ditambah dengan operasi-operasi emergency yang mungkin di lakukan, serta seluruh pasien yang ada di ICU. Oh, sungguh tak terbayang betapa sibuknya.
*****
Sama seperti dokter bedah, bagi seorang dokter anestesi, ruang hijau itu mungkin sudah menjadi bagian dari hidupnya. Lebih banyak menghabiskan waktu di dalam sana ketimbang di luar, dengan para pasien yang secara disengaja dibuat tak sadarkan diri ataupun tak sadar oleh karena penyakitnya. Suasana seperti itu hanya kurasakan satu malam saja. Tapi bagi mereka? Tak akan terhitung berapa malam yang dihabiskan.