Tulisan2 dibawah ini adalah sedikit cuplikan pengalamanku bersama pasien semasa koas..cekidot!
Bangsal Penyakit Dalam, RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta
Malam ketika aku sedang bertugas untuk memeriksa pasien baru. Seorang wanita paruh baya. Ia bercerita bahwa Ia seorang penderita leukemia selama lebih dari 5 tahun. Dari awal gejala beberapa tahun yg lalu, hingga keluhan terakhir ia keluarkan. iIbu ini pada akhirnya menceritakan pula perjuangannya melawan sakit kankernya. Sangat tak mudah, karena ia hanyalah seorang pedagang baju di salah satu kios di tanah abang, Jakarta. Keluar masuk RS serta dihadapkan dengan kebutuhan biaya RS yang tak sedikit, membuat ia harus pontang-panting dalam menjalani hidup setelah didiagnosis sebagai penderita leukemia. Beruntung, ia memiliki suami yang selalu ada dan berjuang bersama. Dengan keteguhannya ia berkata bahwa apapun yang dialaminya sekarang, ia akan tetap hadapi dengan semangat, dan berpasrah dengan apapun yang Allah SWT rencanakan selanjutnya. Setelah seluruh cerita ia keluarkan, ia menanyaiku, apakah aku adalah koas? Apakah aku masih mahasiswa yang sedang belajar? Setelah kujawab, ia tersenyum tuluuuus sekali. Ia berkata bahwa selama ini, selama ia keluar masuk RS, baik itu di Jakarta ataupun Yogya, ia banyak sekali berhadapan dengan para koas. Ia berkata, bahwa Koaslah yang selama ini selalu mendengar keluhkesahnya, yang tidak hanya memeriksa tapi juga selalu menjadi teman bicara untukknya. Bahkan ia berkata, ia sangat senang bila dengan penyakitnya, ia dapat membantu para koas untuk belajar, mengambil ilmu dari apa yang dideritanya.. Lalu Ia menanyaiku, sudah berapa lama menjadi koas, dimana saja aku bertugas, dan rencanaku selanjutnya. Ia memberikanku semangat untuk terus berjuang dan belajar, ia berharap apa yg telah dialaminya dapat menjadi bekal bagiku untuk menjadi dokter sesungguhnya. Subhanallah, mulia sekali hati ibu ini. Saat itu rasanya semangat untuk belajar lebih baik lagi semakin membuncah. ^^, Semoga dimanapun ibu ini berada sekarang, senantiasa diberikan jalan yang terbaik dari-Nya.
Bangsal Cempaka, RSUD Banyumas.
Satu diantara beberapa pasien syaraf yang kufollow up setiap hari di bangsal itu, seorang pasien laki-laki, dengan penurunan kesadaran dan kelumpuhan separuh anggota gerak. Meningoencephalitis, suatu penyakit radang pada otak dan selaputnya. Di hari pertama aku datang, ia sama sekali tidak bisa berhubungan dengan lingkungan sekitar, dan akhirnya aku hanya ngobrol dengan istri pasien. Yang aku perhatikan adalah, si istri ini memiliki motivasi yang tinggi bahwa suaminya akan segera sembuh, ia sangat semangat dan telateeen sekali merawat sang suami. Ia bertanya padaku banyak hal, hal-hal kecil sekalipun. Setiap apa yang ia lakukan, ia utarakan dgn kata-kata, seakan mengobrol dan bercerita dgn suaminya. Tak perduli apakah suaminya mendengar atau tidak. Setiap hari seperti itu, tak pernah berkurang semangat sang istri ini. Manis sekali..=). Mengejutkan, di hari ke-4 pengobatan, kondisi pasien ini aku lihat sudah jauh berbeda. Matanya mulai ada kontak, mulai mengeluarkan suara-suara, walaupun masih tak jelas dan terdengar pelo. Dan sudah bisa mengikuti perintah perintah sederhana untuk menggerakkan anggotatubuhnya. Walaupun masih sangat minim. Saat itu, sang istri bercerita ttg kemajuan suaminya dengan sangat bersemangat sekali. Aku tersenyum dan mengatakan agar tetap harus selalu dilatih terus menerus. Hari berikutnya, ia sudah mampu mengangkat kaki dan tangannya. Dapat menggenggam erat tanganku, serta sudah berusaha berbicara padaku, dengan menjawab pertanyaan2 sederhana dariku. Aku selalu berikan kata-kata penyemangat untuknya, agar terus berusaha lagi. =). Hari itu adalah malam terakhirku memfollow up si pasien. Melihat keadaannya sudah semakin membaik, rasanya bahagiaaa sekali. Aku berpamitan pada pasien dan istrinya, bahwa aku akan pulang ke jogja esok hari. Ia berusaha dengan keras untuk mengucapkan terimakasih padaku, wah, rasannya sangat terharuu. , Dengan kondisi awal seperti itu, 1 minggu merupakan suatu proses yang tergolong sangat cepat. Sepertinya memang usaha sang pasien ditambah kesabaran sang istri membuahkan hasil. Itulah kekuatan keyakinan dan kesabaran..^^ Malam terakhir itu, saat aku masih menulis rekam medis hasil follow up beberapa pasien, tiba-tiba istri pasien itu datang menghampiriku dan mengatakan bahwa suaminya minta nomer hapeku. Wah, saat itu aku kaget sekali, merasa heran sampai-sampai si pasien berkeinginan seperti itu. Aku tertawa dan si istri juga mengatakan bahwa ia juga tak menyangka.hehe. Kuberilah nomer hapeku pada istrinya.
Kira-kira 5 hari kemudian, setelah kepulanganku dari Banyumas, tiba-tiba pukul 05.30 pagi dikejutkan oleh suara wanita yang berbicara semangat sekali dengan logat banyumasnya dari hp; “dokter dinda, dokter dinda. Saya istrinya pak bla bla.. Kemarin sudah boleh pulang dari RS. Bgini dok, ini suami saya kira-kira boleh minum susu anle*e tidak ya dok? Ini suami saya minta saya tanya sama dokter dinda saja, bagaimana dok? “ …………………….. Hmm..sungguh pagi yang lucu. =)
Bagian Perinatologi, RSUD Banyumas
Kali ini adalah cerita tentang kecerobohan dan kekonyolanku yang sudah cukup membuat aku malu setengah mati. Saat itu aku sedang stase di kamar bayi, dan kali ini sedang bertugas di ruang operasi sesar untuk melakukan manajemen resusitasi awal untuk bayi. Seperti biasanya, sambil menunggu, aku ikut melihat jalannya operasi dan bersiap menerima bayi. Saat bayi mulai dikeluarkan dari perut sang ibu, aku langsung menerima dan membalut si bayi mungil itu dengan kain. Perawat operasi bertanya padaku,” laki-laki atau perempuan mbak?”.. Aku yang melihatnya sekilas tadi langsung berkata tanpa berpikir, “Laki-laki pak.” Kemudian aku berjalan cepat menuju sang ibu, menunjukkan si bayi padanya sambil mengatakan “Selamat bu, bayinya laki-laki.” Setelah itu aku bergegas menuju ruang resusitasi dan melakukan beberapa prosedur rutin bersama residen anak. Pembersihan jalan nafas, membersihkan si bayi, menimbang serta memakaikan gelang bayi. Setelah siap semuanya, aku menggendong si bayi dan keluar dari kamar operasi, hendak membawa si bayi menuju ruang bayi. Di luar kamar operasi, seluruh keluarga pasien menunggu, termasuk bpk dari si bayi. Ia menghampiriku dan bertanya, “Ini anak saya mbak?” “iya pak, selamat, putranya laki-laki.” Segera setelah itu saya dan bapak ini menuju ruang bayi.
Sampai di ruang bayi, sesuai prosedurnya, sebelum di masukkan di dalam box, dilakukan penimbangan ulang. Semua kain yang membungkus bayi aku buka, ku tarolah itu bayi di atas timbangan. Tiba-tiba bapak si bayi terkaget, “Loh mbak, ini bayi saya perempuan kok” katanya, sambil menunjuk bayi dan menunjukkan muka heran. Setelah kulihat… “Astaga, tadi saya bilang laki-laki ya pak?” raut mukaku saat itu berubah jadi kaget setengah mati, mengingat aku mengatakan laki-laki pada seluruh personel kamar operasi termasuk ibu bayi ini. Mendengar itu, semua perawat yang ada disitu tertawa..”Woalah mbak,mbak… kok iso to.. gek ndang balik ke IBS lagi sana.. ngganti gelange ibu’e…” (*IBS : Instalasi Bedah Sentral. ) Ujar seorang perawat sambil menahan tawanya. Buru-buru saat itu aku kembali ke kamar operasi dan mengatakan bahwa aku keliru menyebutkan jenis kelamin si bayi. Lagi-lagi di sambut dengan tertawa…. Duh, sungguh malu rasanya.
bener2 masa yang -tak tergantikan- ya Din
semangat untuk amanah baru di pundak! ^^
yup! benar sekalii.. always gonna be the unforgettable moments..^^ trimakasih yaa..